Friday, April 28, 2006

musimnya pindah rumah

sekarang ada di http://delango.wordpress.com
sila berkunjung!

Tuesday, April 04, 2006

saya suka hujan, tapi tidak hujan yang ini...

Saya suka hujan. Sejak dulu. Sore setelah hujan mencuci bumi adalah momen terbaik yang membawa perasaan bahagia. Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan.

Saya suka hujan. Sama seperti hujan kecil-kecil yang turun malam ini. Biasanya saya melongokkan kepala keluar jendela. Mengambil nafas panjang-panjang, memuaskan rongga hidung yang membaui wangi tanah yang khas sehabis hujan.

Saya suka hujan. Tapi tidak hujan malam ini. Baru saja saya menutup telepon, mengakhiri pembicaran dengan ibu saya, sebelum akhirnya saya kembali ke posisi favorit saya ketika membaui hujan.

Sepeninggal bapak, ibu saya kini tinggal bertiga dengan adik yang paling kecil. Dengan membujuk-bujuk, seorang keponakannya akhirnya mau juga ikut tinggal di rumah. Bertigalah mereka mendiami rumah dengan halaman yang cukup luas itu.

Sepeninggal bapak, ibu saya juga mesti harus menyelesaikan beberapa tetek bengek, terutama tunggakan biaya pengobatan bapak selama koma. Cukup besar bila dibandingkan dengan pendapatannya sebagai guru. Pihak yang menabrak bapak telah mengajukan perdamaian; berjanji akan membayarkan sejumlah uang untuk membantu tunggakan rumah sakit. Namun keluarga kami dan mereka belum sepakat mengenai besar uang 'pertanggungan' yang akan mereka bayarkan.

Dan itulah topik pembicaraan telepon yang singkat tadi. Ibu mengungkapkan kekecewaannya pada proses 'perdamaian' ini.

Saya cuma bisa menarik napas panjang berkali-kali. Kecewa dengan hal ini, tentu saja. Tapi yang lebih menohok adalah kenyataan bahwa ternyata setelah kehilangan suami tercintanya, ibu masih harus dipusingkan oleh hal-hal seperti ini. Seharusnya ibu bisa lebih berpusat pada usahanya menenangkan diri. Tak perlu dia harus berpusing-pusing lagi. Sudah cukuplah beban yang ada padanya...

Saya juga kecewa pada diri saya sendiri. Tak bisa berbuat sesuatu apa pun.

Di akhir pembicaraan, ibu kembali berpesan "Abang juga harus kuat ya. Banyak-banyaklah berdoa. Ingat semua pesan-pesan yang pernah Bapak beri. Lanjutkan cita-cita bapak yang diamanatkan ke abang. Kalau abang berhasil, bapak pun pasti senang di sana...."

Saya hanya terdiam setelah menutup telepon. Di tengah begitu besarnya beban yang ada padanya, ibu saya tetap tak lupa memperhatikan anaknya ini.

Dan saya cukup lama terdiam melongokkan kepala ke luar jendela. Hanya diam, memandangi rintik-rintik hujan yang turun perlahan mengiris-iris udara malam yang makin dingin. Sambil sesekali menghela napas panjang.

Saya akhiri lamunan tadi dengan sekali lagi menghela napas panjang, sangat panjang, sambil menyeka butir-butir air mata yang turun satu-satu.

Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan.

Saya suka hujan. Tapi tidak hujan yang ini...

Saturday, March 25, 2006

Bapak saya

Marsirang ma hape, O amang na burju
Di jou Tuhanta ho amang, tu hasonangan i

Ternyata kita harus berpisah, O Bapakku yang baik
Dipanggil Tuhan engkau, ke tempat yang berbahagia itu

Amangku na burju, na lambok malilung
Sahat ma ho tu surgo i, tu hasonangan i

Bapakku yang baik, yang lembut hati
Sampailah engkau ke surga, ke tempat yang berbahagia itu

Amang na burju, na uli lagu
Tulus ma tu surgoi, sonang ma ho disi

Bapakku yang baik, yang bersuara merdu
Muluslah jalanmu ke surga, berbahagialah disana

Di tingki ngolumi, godang si taononmi
Di tangiang hon ho sude hami pinomparmon

Di masa hidupmu, amat banyak penderitaanmu
Namun tetap engkau doakan kami semua keturunanmu

Amang na burju, na uli lagu
Poda na nilehonmi hutiop ma tong-tong

Bapakku yang baik, yang bersuara merdu
Nasihat yang engkau berikan, akan kupegang selalu

Di tingki ngolumi, godang do salangki
Tuhanta ma manesai mangapul roha i

Di masa hidupmu, banyak kesalahanku
Kiranya Tuhanlah yang menghapusnya, menghibur hatimu

Amang na burju, na uli lagu
Poda na nilehonmi, hutiop ma tutu

Bapakku yang baik, yang bersuara merdu
Nasihat yang engkau berikan, akan kupegang selalu

Di tingki ngolumi godang do podami
Di tangiang hon ho sude hami pinomparmon

Di masa hidupmu amat banyak nasihat yang engkau berikan
Semoga engkau doakan semua kami keturunanmu

Amana na burju, nauli lagu
Poda na ni lehon mi, hutiop ma tutu

Bapakku yang baik, yang bersuara merdu
Nasihat yang engkau berikan, akan kupegang selalu

Naborhat nama ho, O amang na burju
Tadingkononmu ma hape sude na hamion

Pergilah engkau sekarang, o bapakku yang baik
Dan engkau tinggalkanlah kami semua

Sai Tuhanta ma na mangapuli i
Sa sude ala hamion na tinadingkonmon

Semoga kiranya Tuhanlah yang menghibur
Kami semua yang engkau tinggalkan

In Memoriam : Klinius K Simalango
Tubu : 15 Juli 1952
Monding : 10 Maret 2006

Friday, March 24, 2006

little wing

Well she's walking through the clouds
With a circus mind that's running round
Butterflies and zebras
And moonbeams and fairy tales
That's all she ever thinks about
Riding with the wind

When I'm sad, she comes to me
With a thousand smiles, she gives to me free
It's alright she says it's alright
Take anything you want from me,
anything...

Fly on little wing
Yeah, little wing...

Saturday, February 18, 2006

my dear tell me so

"Don't look back!"
"Screw the past!"


Simple but very inspiring, dear!
Thank you for always reminding me.

^_^

Monday, February 13, 2006

tiket menuju kebahagiaan, adakah ?

Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu tentang: ”apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang berbahagia” daripada tahu tentang: ”mengapa kita tidak bahagia”.

Perasaan tidak bahagia sebenarnya adalah penyakit. Hal itu adalah bentuk dari upaya meracuni diri sendiri. Mari kita rawat penyakit itu dengan cara yang terjangkau. Kita cermati gejala penyakit tersebut dan kita hancurkan gejala itu.

Di bawah ini terdaftar hal-hal yang biasanya merupakan gejala yang meracuni kebahagiaan kita beserta antibodi yang dapat menghancurkan gejala penyakit ketidakbahagiaan kita.

Racun pertama: Menghindar

Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapat kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.

Antibodinya: Realitas.

Cara: Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustrasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

Racun kedua: Ketakutan

Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkawinan, kesulitan seksual.

Antibodinya: Keberanian.

Cara: Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.

Racun ketiga: Egoistis

Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.

Antibodinya: Bersikap sosial.

Cara: Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apa pun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

Racun keempat: Stagnasi

Gejalanya berhenti di satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.

Antibodinya: Ambisi.

Cara: Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

Racun kelima: Rasa rendah diri

Gejala: Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.

Antibodi: Keyakinan diri.

Cara: Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

Racun keenam: Narsistik

Gejala: Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.

Antibodi: Rendah hati.

Cara: Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan berbahagia. Hindari sikap ” sok tahu”. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

Racun ketujuh: Mengasihani diri

Gejala: Kebiasaan menarik perhatian, suasana hati yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.

Antibodi: Sublimasi.

Cara: Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimental dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.

Racun kedelapan: Sikap bermalas-malasan

Gejala: Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.

Antibodi: Kerja.

Cara: Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

Racun kesembilan: Sikap tidak toleran

Gejala: Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.

Antibodi: Kontrol diri.

Cara: Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

Racun kesepuluh: Kebencian

Gejala: Keinginan balas dendam, kejam, bengis.

Antibodi: Cinta kasih.

Cara: Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Mari, simpanlah paket tiket untuk melawan perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama saat kita sedang berada dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.

Thursday, February 02, 2006

menjelang petang

ketika sedang duduk melamun di depan komputer sesorean, iseng-iseng melihat ke luar jendela, dan.... luar biasa! Pemandangan langit sore warna jingga yang sangat mempesona. Entah kapan terakhir kali melihat nuansa petang yang menghanyutkan seperti ini.

Setiap kali melihat langit merona seperti ini, saya pasti teringat sepotong puisi ini :

...
kukirimkan padamu
sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan
yang nyata dan betul-betul ada
dalam keadaan yang sama
seperti ketika aku mengambilnya
saat matahari hampir tenggelam ke cakrawala...


ps:
hey kamu yang disana
kita melihat langit yang sama kan sore tadi?
besar inginku
di penampakan senja jingga berikutnya
kita bisa kembali melihatnya bersama
bergandengan...